BPPT dan President Executive Club Sepakat Bekerja Sama Kembangkan Techno Park

Written by Teguh DC on . Posted in Kegiatan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan President Executive Club (PEC) sepakat bekerja sama untuk mengembangkan 100 Techno Park di seluruh Indonesia. Untuk proyek pertama, penerapannya akan dilakukan di Kawasan Industri Jababeka (KIJA).

Demikian hasil pertemuan yang diungkap oleh Safrizal Akbar selaku Executive Director dari President Executive Club yang dihadiri oleh Dr. Hammam Riza, M.Sc selaku Kepala BPPT bersama jajarannya, Setyono Djuandi Darmono selaku founder &  chairman PEC, Prof. Budi Susilo Soepandji selaku anggota PEC, di kantor BPPT,  Senin (6/2) lalu.  

"Pertemuan PEC dan BPPT merupakan pertemuan lanjutan dari pertemuan 6 bulan lalu  yang membahas tentang rancangan kerja sama dengan BPPT. Tujuannya, untuk mengonkretkan kerja sama yang lebih tinggi lagi," ungkapnya.

Menurut Hammam, melalui program pengembangan 100 Technopark yang menjadi kebijakan Presiden, BPPT siap membantu Jababeka untuk mengembangkan konsep Technopark di Kawasan Industri Jababeka. Selain itu, sebagai lokal konten BPPT memiliki banyak produk yang potensial untuk dikomersialisasikan. Produk-produk  BPPT dan masterplan Technopark diharapkan  bisa dipamerkan pada showroom (area display) di Kawasan Industri  Jababeka. 

Lebih dalam, Safrizal menerangkan pertemuan tersebut membahas tentang peluang mengadopsi penemuan-penemuan BPPT dengan kebutuhan pabrik di KIJA yang memiliki lebih dari 2000 pabrik. Sebab banyak penemuan dari BPPT yang bagus, di sisi lain pabrik-pabrik di KIJA butuh pengembangan dan riset dari segi teknologi maupun produknya. Sehingga bisa membantu meningkatkan efisiensi dan menggenjot produktivitas.

"Penemuan BPPT banyak yang bagus,  yang mendukung teknologi industri 4.0,  teknologi drone, teknologi berbasis aplikasi dan ICT (information communication technology), biodiesel, seperti B20, B30 yang kemarin dirilis oleh Pertamina. Bahkan sampai B100," terang Safrizal.

Sementara pabrik-pabrik yang ada di KIJA masih banyak yang memakai teknologi generasi 1.0., 2.0, 3.0. Untuk itu, kerja sama ini diperlukan agar pabrik-pabrik yang masih menerapkan teknologi generasi 1.0 dan 2.0 bisa meningkatkan teknologi pabrik mereka. Selain itu, jika mereka membutuhkan bantuan riset nantinya bisa terpenuhi.

Menurut Safrizal, kerjasama BPPT dan PEC sangat bagus jika terwujud, yaitu BPPT bisa memperluas hasil dari temuan-temuan risetnya, dan KIJA bisa membantu pabrik meng-upgrade teknologinya. Hal itu sesuai program Presiden Republik Indonesia Joko Widodo agar industri kecil dan menengah mengimplementasikan industri 4.0  di era revolusi industri 4.0, guna mendongkrak ekspor dan meningkatkan daya saing.

"Hasil dari pertemuan itu, nantinya kita membuat satgas (satuan tugas), yang terdiri dari tim ahli yang berasal dari PEC dan BPPT dan ada dua posko yang nanti bisa dijadikan tempat bekerja untuk memudahkan koordinasi dan pelaksanaan, yaitu di Jakarta: di kantor BPPT, dan di Cikarang: di KIJA," kata Safrizal.

Satgas akan berkoordinasi untuk klasterisasi sektor industri karena KIJA diisi oleh pabrik-pabrik dari berbagai sektor industri. Sehingga dari upaya tersebut muncul peluang kerja sama antara BPPT dengan tenant yang dijembatani KIJA.

"Goals-nya, kami harap adanya pengembangan industri berteknologi lama menjadi industri berteknologi baru yang akan menciptakan lapangan kerja melalui pabrik-pabrik baru. Kita ingin upgrade KIJA seperti Silicon Valley, di mana menjadi tempat industri baru berada dan pabrik-pabrik baru -- hasil dari kerja sama BPPT & PEC," terang Safrizal.

Kapan ini akan terealisasi?

"Secepatnya. Tapi bakal dirilis kerja sama ini dalam rakernas BPPT yang akan diselenggarakan 24 Februari 2020 di mana pak SD Darmono selaku founder and chairman PT. Jababeka Tbk akan hadir untuk menandatangani MoU dan juga sebagai narasumber ," tutup Safrizal.

Pada akhir sesi, diharapkan tenant-tenant Balai Inkubator Teknologi yang membutuhkan pembiayaan dan scale up usaha  untuk dapat  pitching atau presentasi bisnis  dihadapan investor di president lounge Jababeka.

BPPT and President Executive Club agree to Cooperate on Developing Techno Park

Written by Teguh DC on . Posted in Kegiatan

The Agency of the Assessment and Application of Technology  (BPPT) and President Executive Club (PEC) agree to cooperate on developing 100 Technopark in Indonesia. For the first project, the application will be done in Jababeka industrial Area (KIJA).

Thus the result of the meeting disclosed by the Executive Director of Presiden Club  Safrizal Akbar that were attended by the head of BPPT  Dr. Hammam Riza, M.Sc and his staffs, the founder  & chairman PEC, Setyono Djuandi Darmono, and the member of PEC Prof. Budi Susilo Soepandji, at BPPT office, on Monday (6/2).

“The meeting of PEC and BPPT was a follow-up meeting from 6 month ago meeting which discuss about cooperative design with BPPT. The purpose was to concretize the next level cooperation” he said.

According to Hamman, trough president’s 100 Technoparks development program policy, BPPT is ready to help Jababeka developing technopark’s concept at Jababeka Industry Area, apart from that, for local content BPPT has many potential products to commercialise. BPPT’s Product and Technopark’s Masterplan are expected to be exhibited on Showroom (display area) in Jababeka Industrial Area.

Furthermore, Safrizal explained that the meeting discussed about opportunity to adopt BPPT’s research to match the needs of more than 2000 Factories in KIJA. Because BPPT has many good inventions. On the other hand, factories at KIJA require development and research from technology aspect and product, so that it could help improving  efficiency and boost productivity.

“BPPT has many sophisticated inventions which support industry 4.0, drone technology, technology based application, and ICT (information communication technology), Biodiesel such as B20, B30 that just released by Pertamina yesterday, even B100” Safrizal said.

Meanwhile, many factories at KIJA still utilize Gen 1.0, 2.0, and 3.0 technology, thus this cooperation is required so that those factories which still used Gen 1.0, 2.0, gen 3.0 technology can upgrade their factories’ technology. Beside if sometimes they need help for research, it will be complied in time.

According to Safrizal, collaboration between BPPT and PEC is very good if it has been realized, that is BPPT will able to widen their invention’s application, and KIJA can help factories to upgrade their technology. This suits Republic of Indonesia President Joko Widodo’s program so that Small Medium Enterprises implement 4.0 industry in revolution industry 4.0 in order to increase export and improve  competitiveness.

“The outcome of the meeting is, we will put together Task Force (Satgas), consists of expert team from PEC and BPPT and there will be 2 posts that will be turned into office which would be alleviated coordination and execution; the posts are located in Jakarta at BPPT office, and in Cikarang: at KIJA”  Safrizal stated.

Task force (satgas) will coordinate clustering industry sector because KIJA comprise of several industry sectors,  hence the opportunity of cooperation between BPPT and tenants through KIJA arise.

“The goals are, hopefully with this development of old-fashioned technology to new technology, it will generate jobs via new factories. We want to upgrade KIJA into Silicon Valley, become a place where new industries and factories are, -- the outcome of BPPT and PEC cooperation.” Safrizal explained.

When will it be realized?

The MoU for the cooperation between BPPT and PEC has been signed on 24 Febuary 2020 at BPPT National Gathering where Mr. SD Darmono founder and Chairman of PT. Jababeka Tbk attended as a speaker.

 In the end of session, Technology Based Business Incubation tenants that need capital seed and scaling up are expected to pitch or present their business before the investors at Jababeka President Lounge

Inisiasi Kerjasama Balai Inkubator Teknologi BPPT dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

Written by Super User on . Posted in Kegiatan

Jakarta, BPPT – Balai Inkubator Teknologi BPPT yang diwakili oleh R. Agus Sampurna,  Salman Al farisy, Virny Zasyana ,  Harsvela Klapica Nastiti, dan Shabrina Nurfitria. Dalam rangka seleksi tenant balai inkubator BPPT tahap II melakukan inisisasi kerjasama dan memberikan info kepada Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyaring tenant dari instansi pemerintah di luar BPPT (Kamis, 04/07/2019).
Sejak bulan April 2019 Tim seleksi tenant BIT telah menggencarkan promosi Seleksei Tenan Batch II untuk menjaring sebanyak – banyaknya Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi yang memang berkompeten. Tim memasang X-Banner kegiatan Seleksi Tenan Batch II di gedung – gedung BPPT di Kawasan Puspipitek dan Kantor Pusat BPPT di Thamrin. Untuk Intern BPPT Tim seleksi tenant BIT juga berencana untuk mengadakan roadshow ke masing – masing unit kerja BPPT. Kegiatan ini juga dinisiasi tidak hanya didalam BPPT dan untuk masyarakat luas tetapi juga ke instansi lain.  Hal tersebutlah yang melatarbelakangi BIT berkunjung ke Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
Pihak Kominfo menerima dengan sangat antusias kedatangan Tim BIT. Kominfo mendapatkan mandat dari presiden untuk merintis ekosistem 1000 start up digital di Indonesia sampai dengan 2020. Tentunya hal tersebut bukanlah hal yang mudah. 1000 bukanlah angka yang sedikit. Mengetahui bahwa ternyata BPPT memiliki Inkubator milik pemerintah yang bersifat netral dan tidak mengambil keuntungan Pihak Kominfo menyambut hangat dan sangat mendukung kegiatan atau kemungkinan untuk saling bekerjasamsa dan bersinergi kedepanya.
Hal tersebut juga dijelaskan oleh Sonny Hendra Sudaryana, ST., M.MT, Kasie Perancangan Pemberdayaan Kreatifitas TIK. Menurutnya program – program untuk mendukung tumbuh kembangnya startup – strat up di bidang IT belum maksimal karena belum ada mitra untuk membangun ekosistem yang baik bagi startup tersebut. Saat ini start up start up it 47% kesulitan menghire orang, sehingga butuh di koneksikan dengan ahli atau dengan pihak yang sesuai dan jaringan mereka masih sangat terbatas. Disitulah peran Inkubator bagi para startup, Inkubator sangat dibutuhkan bagi startup – startup yang masih berkembang ini.
Sinergi antara instansi pemerintah ini diharapkan dapat berlanjut kearah yang lebih serius. Karena ketertarikannya pada program – program BIT yang dirasa dapat membantu untuk saling menciptakan ekosistem yang sesuai bagi startup, pada hari Jumat (05/07) pihak Kominfo berencana melakukan kunjungan balasan dalam rangka untuk melihat langsung fasilitas yang dapat dimanfaatkan tenan di Gedung Manajemen BPPT serta mendengarkan presentasi mengenai Company Profile secara lengkap agar pihak Kominfo lebih dapat merencanakan lagi bentuk kerjasama yang dapat dilakukan antara kedua belah pihak. (Que)

 

 

 

BALAI INKUBATOR TEKNOLOGI DAN SOCIOPRENEURID BERSINERGI MENGEMBANGKAN EKOSISTEM WIRAUSAHA

Written by Super User on . Posted in Kegiatan

 

Bertempat di Lounge Gedung 720 (Pusat Inovasi dan BIsnis Teknologi) BPPT di Kawasan PUSPIPTEK, Setu, Tangerang Selatan pada tanggal 17 Juni 2019, BIT dan SociopreneurID berkomitmen pada kerjasama pengembangan ekosistem wirausaha.

Kepala BIT, Anugerah Widiyanto, pada sambutannya mengemukakan antusiasmenya menanti kolaborasi dari kerjasama ini. Bagaimana tidak, dengan adanya kerjasama ini, program inkubasi Balai Inkubator Teknologi (BIT) BPPT akan memasuki tahapan baru dalam kegiatannya sebagai inkubator pemerintah yang bertugas membina Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT). Tidak hanya sekedar meningkatkan kapasitas usaha PPBT binaan, kegiatan bersama ini diharapkan mampu menjembatani PPBT binaan BIT untuk membuka jaringan lebih luas dalam lingkungan wirausaha yang positif dan peduli sosial, sehingga kegiatan usahanya dapat terus berkembang dan berkelanjutan.

Dessy Aliandrina, selaku Founder SociopreneurID telah memiliki jaringan yang luas di dalam dan luar negeri dalam usahanya membentuk ekosistem berwirausaha yang perduli pada lingkungan dan sosial. Bergandengan dengan BIT BPPT, tentu membuka peluang memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain dalam pengembangan ekosistem berwirausaha, sebut saja pada sumber daya manusia, fasilitas, dan regulasi pemerintah.

Selain kerjasama pencarian calon PPBT dan produk-produk inovasi terutama yang menyentuh bidang sosial, ruang lingkup kerjasama ini juga meliputi kegiatan mentoring, askes pembiayaan, penggunaan fasilitas NSTP BPPT, dan pendirian inkubator. Pada kegiatan pertama yang direncakan beberapa waktu ke depan, BIT akan melibatkan beberapa PPBT binaan di bidang sosial untuk mengikuti acara SociopreneurID.

 

 

 

FGD Sensory Test Kopi Hijau

Written by Super User on . Posted in Kegiatan

Pengembangan produk merupakan salah satu langkah atau strategi dalam mengembangkan bisnis. Produk existing atau yang telah beredar dipasar akan terus mendapatkan tekanan dari para competitor yang memasukkan produk baru, oleh karena itu penting bagi sebuah pengusaha bisnis untuk memikirkan kelangsungan bisnis dengan terus mengedepankan inovasi pada produk mereka. Sehingga mereka mampu bertahan pada persaingan bisnis yang ada di pasar.

Tiara Farm merupakan salah satu tenant Balai Inkubator Teknologi yang mengangkat sebuah produk kopi hijau, dengan merel dagang Kopi Hijau Gayi Tiara Farm. Tenant ingin mengembangkan bisnis dengan melebarkan pangsa pasar atau segmentasi yang berbeda dari produk sebelumnya, yaitu rencana masuk ke pasar kategori low income. Rencana tersebut direalisasikan oleh Tiara Farm dengan mengembangkan produk sachet kopi hijau untuk memenuhi pasar low income. Dalam pelaksanaannya, Tiara Farm membutuhkan pendampingan incubator BIT dalam melakukan pengembangan produk mereka.

Pengembangan produk tersebut adalah dengan merubah segmen kopi hijau untuk kategori kesehatan menjadi kopi sachet untuk kategori minuman kopi. Pengembangan produk sekaligus sebagai jawaban atas permintaan pasar yang menginginkan kopi hijau murah. Terdapat tiga varian rasa pengembangan produk kopi hijau Tiara Farm, yaitu kopi hijau sachet rasa cappuccino, jahe, dan jahe cappuccino. Varian kopi hijau diberikan merek dagang ‘Go Go Mix’. Dalam formulasi produk, diperlukan masukan atas tingkat penerimaan pasar terhadap produk tersebut.
BIT sebagai incubator bisnis pendamping, melakukan pendampingan terhadap pengujian produk hasil pengembangan formula dari tenant BIT. Yaitu, dengan melakukan uji sensori terhadap ketiga produk sachet Tiara Farm sebagai acuan tingkat penerimaan pasar. Banyak jenis metode uji sensori yang dapat dilakukan dengan tujuan yang berbeda beda. Kali ini, uji sensori dilakukan dalam rangka pengembangan produk dimana bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan pasar atas produk baru kopi sachet tiara farm dengan merek dagang ‘Go Go Mix’, sehingga dapat dilakukan dengan uji tingkat kesukaan.

Pengujian dilakukan di Laboratorium Sensori Teknologi Agroindustri BPPT terhadap 30 panelis dengan menggunakan uji tingkat kesukaan. Masing masing panelis sensori diminta untuk memberikan skala nilai kesukaan terhadap masing masing sample produk dengan tidak membandingkan antar sampel. Terdapat beberapa parameter yang harus dinilai dalam masing masing sampel, seperti parameter tingkat kemanisan, aroma, warna, rasa secara keseluruhan dll. Dari masing masing parameter tersebutlah nantinya formulator akan mendapatkan input untuk melakukan perbaikan formulasi.

Hasil pengujian sensori terhadap 30 panelis memperlihatkan bahwa produk kopi sachet ‘Go Go Mix’ masih membutuhkan perbaikan terhadap parameter warna dan aroma. Perbaikan diperlukan terhadap ketiga varian rasa ‘Go Go Mix’.

 

 

 

Visit lbetting.co.uk how to sing-up at ladbrokes