BPPT Dukung Banyuwangi Tumbuhkan Technopreneur Kopi dan Kakao

Written by Teguh DC on . Posted in Kegiatan

BPPT.GO.ID - BANYUWANGI - BPPT lanjutkan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Peningkatan produksi kakao dan kopi di sektor hulu hingga hilir menjadi fokus kesepekatan bersama kali ini dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah berbasis inovasi teknologi.

Kepala BPPT Hammam Riza, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa BPPT sangat mendorong adanya hilirisasi hasil riset ke seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah, yang menjadi pilar pembangunan masyarakat.

"Dengan Memorandum of Understanding (MoU) inilah kami berharap akan menjadi salah satu jembatan tersebut," ujar Hammam usai penandatanganan MoU dengan Pemkab Banyuwangi di Gedung Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (08/03).

Lebih lanjut, Kepala BPPT menjelaskan MoU ini akan fokus pada tiga bidang, yakni peningkatan kompetensi teknologi budidaya kopi dan kakao; Peningkatan kompetensi teknologi pengolahan kopi dan kakao; Serta pelatihan kewirausahaan pengusaha kopi dan kakao pemula berbasis teknologi di Kabupaten Banyuwangi.

 

Untuk sektor budidaya, Hammam mengatakan, BPPT akan memperkenalkan teknologi smart farming kepada para petani kopi dan kakao di Banyuwangi.

"Kita gabungkan teknologi pertanian dengan internet of thing untuk meningkatkan produksi kopi dan kakao. Ini sesuai dengan arahan Presiden RI dalam upaya menghadapi era industri 4.0," tegas Hammam.

Selanjutnya apabila produksi sudah meningkat, BPPT akan mendampingi dalam peningkatan pengolahan Kopi dan Kakao dengan menggunakan berbagai produk Inovasi dari BPPT untuk menghasilkan produk minuman ataupun produk olahan lainnya yang memiliki keunggulan dan kekhasan Banyuwangi.

"Kita lakukan diversifikasi produk. Kita berikan nilai tambah pada biji kopi dan kakao. Jadi petani tidak lagi hanya menjual biji mentah saja. Dengan begitu nilai jualnya juga akan lebih tinggi," urai Kepala BPPT.

Tidak kalah pentingnya, Kepala BPPT berujar bahwa pembangunan suatu wilayah pasti mengandalkan potensi sumber daya alam, namun juga harus  dipadukan dengan penguatan sumberdaya manusia (SDM).

"Target BPPT dan Pemkab Banyuwangi tidak berhenti hanya sampai peningkatan produksi kopi dan kakao saja. Proses dari hulur ke hilir ini merupakan sebuah dukungan teknologi untuk mencetak technopreneur di bidang agro," tegasnya.

Menurut Hammam, program technopreuner BPPT akan menyasar pada peningkatan sumber daya manusia muda Banyuwangi di industri kreatif bidang makanan minuman untuk menghasilkan produk unggulan kopi dan kakao serta mendorong lahirnya wirausahawan berbasis inovasi teknologi yang mampu mendorong peningkatan ekonomi daerah.

"Semua alat canggih itu hanya tools. Pengembangan SDM berbasis human center innovation itu mutlak dilakukan. Karena brainware-lah yang pada akhirnya mampu memunculkan inovasi teknologi baru," terangnya.

Kepala BPPT juga mengajak Kab. Banyuwangi untuk memanfaatkan inovasi teknologi BPPT lainnya. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang mengusung konsep waste to energy.

"Ini pertama di Indonesia, hasil kerja sama BPPT dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jadi Selain fungsi utamanya sebagai pemusnah sampah secara cepat, PLTSa ini mampu memberikan bonus listrik," urainya

Kepala BPPT berharap semoga dengan sentuhan teknologi BPPT, serta dukungan penuh Pemkab Banyuwangi, pengembangan kopi dan kakao ini dapat berhasil dan menjadi penguatan SDM Iptek bagi Banyuwangi dan daerah lainnya.

 

"Semoga Iptek dapat menjadi penghela ekonomi Banyuwangi," tutup Hammam.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik kerjasama dengan BPPT tersebut. Ini sebagai bentuk penyiapan SDM kopi dan kakao di Banyuwangi.

“Komoditas kopi dan kakao dipilih dalam pengembangan technopreneur bersama BPPT didasari dari riset, dimana startup yang kuat atau sustainable itu berbasiskan agro. Beruntungnya Banyuwangi memiliki produksi kopi dan kakao yang melimpah,” urai Bupati Anas.

Lebih lanjut, fokus kolaborasi ini adalah para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan santri untuk didorong menjadi pengusaha pemula berbasis teknologi. Pada tahap awal, ratusan siswa dan santri dari 10 SMK dan pesantren akan dilatih budidaya dan pengolahan dari hulu ke hilir komoditas kopi dan cokelat.

"Baru saja Saya dan Kepala BPPT menikmati racikan kopi asli Banyuwangi yang disajikan oleh siswa/i SMK. Mereka itu baru dua hari yang lalu diberikan pelatihan budidaya dan pengolahan kopi oleh rekan BPPT. Cepat sekali mereka belajarnya," ungkap Bupati Anas terkagum.

Dirinya berharap kolaborasi ini bisa cepat terlihat hasilnya. Karena generasi milenial menginginkan semuanya serba cepat. Mereka belajar cepat dari sumber manapun, dan cenderung lebih cepat bosan apabila ilmunya tidak segera disalurkan.

“Dalam enam bulan ke depan, Saya akan lakukan evaluasi, bagaimana hasilnya. Apabila ada yang terhambat, bersama kita temukan solusinya,” tegas Bupati Anas.

Di akhir, dirinya mengungkapkan ketertarikannya akan teknologi PLTSa yang memiliki konsep waste to energy. PLTSa ini diharapkan mampu untuk membantu menangani sampah di Banyuwangi yang terkenal akan pariwisata dan festivalnya.

“Apabila Bantar Gebang merupakan PLTSa pertama di Indonesia. Insya Allah Banyuwangi akan jadi yang kedua,” pungkas Bupati Anas. (Humas/HMP)

Visit lbetting.co.uk how to sing-up at ladbrokes